MENCARI SOSOK PEMIMPIN YANG IDEAL

Kepemimpinan adalah kebutuhan dasar umat manusia, tetapi tidak sembarang pemimpin dapat melakukannya. Bahkan dalam sebuah keluarga, sang ayah harus mampu menjalankan kepemimpinan agar istri dan anak-anaknya dapat bahagia. Begitu juga didalam sebuah perusahaan yang maju san notabone memiliki banyak karyawan. Kalau begitu, bisa dibayangkan betapa lebih banyak lagi yang dituntut dari seorang pemimpin nasional atau dunia dan tidak heran kalau mencari pemimpin yang ideal sangat sukar.
Oleh sebab itu, selama ribuan tahun, tak terhitung banyaknya penobatan, kudeta, pelantikan, pemilu, pembunuhan, dan perubahan rezim telah terjadi, raja perdana menteri, pangeran, presiden, sekretaris jenderal, dan diktator silih berganti.
Sejarah membuktikan seorang penguasa biasanya akan direspek dan didukung rakyatnya jika ia memberi mereka kadar kedamaian yang masuk akal dan kondisi hidup yang terjamin. Akan tetapi, jika rakyat hilang kepercayaan kepadanya karena alasan tertentu, orang lain mungkin akan segera menggantikan posisinya. Berikut ini adalah beberapa contoh keadaan yang dapat menumbangkan seorang penguasa yang kuat secara mendadak.
Pertama kondisi hidup yang buruk. Di pengujung abad ke-18, banyak warga negara Prancis dipaksa menjalani kehidupan dengan beban pajak yang mencekik dan makan yang kurang. Keadaan ini turut memicu Revolusi Prancis sehingga Raja Louis XVI dipenggal dengan guillotine pada tahun 1793.
Kedua perang. Perang Dunia I telah mengakhiri kekuasaan beberapa kaisar yang paling berkuasa dalam sejarah, misalnya, pada tahun 1917 sebuah perang yang menyebabkan kekurangan pangan di St Peterburg, Rusia, berubah menjadi Revolusi Februari. Pemberontakan ini membuat Tzar Nicholas II turun takhta dan digantikan pemerintahan komunis. Pada bulan November 1918, Jerman menginginkan perdamaian, tetapi Sekutu tidak akan berhenti berperang hingga ada perubahan kepemimpinan. Akibatnya, Kaisar Jerman Wilhelm II diasingkan ke negeri Belanda secara paksa.
Ketiga, menginginkan sistem pemerintahan yang berbeda. Pada tahun 1989, tirai besi disingkirkan. Rezim-rezim yang tampaknya sekeras batu cadas runtuh sewaktu rakyat menolak komunisme dan mendirikan bentuk pemerintahan yang berbeda.
Pada tahun 1940, ada krisis kepemimpinan di parlemen Inggris. David Lloyd George yang berusia 77 tahun, yang mengamati debat itu, ia telah memimpin Inggris memperoleh kemenangan dalam Perang Dunia I. Karena sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam politik, ia dapat mengevaluasi dengan cermat hasil kerja para pejabat tinggi. Dalam sebuah ceramah kepada majelis di Inggris pada tanggal 8 Mei 1940, ia menyatakan, “Bangsa ini telah siap mengorbankan apa pun asalkan memiliki kepemimpinan, asalkan pemerintah dengan jelas memperlihatkan tujuan mereka. Asalkan bangsa ini yakin bahwa para pemimpin berusaha sebaik-baiknya.”
Kata-kata Lloyd George memperjelas bahwa rakyat mengharapkan pemimpin yang kompeten, tulus, dan berupaya memperbaiki keadaan. Seorang pekerja kampanye pemilu menjelaskan, “Sewaktu rakyat memberikan suaranya untuk memilih seorang presiden, mereka mempercayakan kehidupan, masa depan, dan anak-anak mereka kepada orang yang mereka pilih.” Memperoleh kepercayaan semacam itu adalah tugas yang amat berat. Mengapa demikian?
Dunia kita tampaknya sarat dengan masalah yang mustahil untuk dipecahkan, misalnya, pemimpin mana yang terbukti sangat arif dan berkuasa sehingga ia dapat memberantas kejahatan dan perang? Siapa dari kalangan pemimpin dewasa ini yang memiliki sumber daya dan keibaan hati untuk menyediakan air bersih, dan perawatan kesehatan bagi setiap manusia? Siapa yang memiliki pengetahuan dan tekad untuk melindungi dan memulihkan lingkungan? Siapa yang cukup berkuasa untuk menjamin umat manusia dapat menikmati kehidupan bahagia? Apabila ada yang sanggup menjawab dan menyelesaikan semua pertanyaan-pertanyaan di atas itulah sesungguhnya pemimpin yang kompeten.
Pemimpin yang ideal harus memenuhi aspek-aspek kepribadian yang unggul dan mencolok. Berikut ini adalah ciri dari kepribadian seorang pemimpin yang ideal. Pertama, memiliki integritas, berperilaku jujur dan lurus sehingga dapat menantang musuh-musuhnya di hadapan umum, tidak munafik sehingga masyarakat akan tergerak untuk menjadi pendukungnya.
Kedua, peduli terhadap masyarakat, memberikan dukungan moril, materiil, penghiburan bagi orang-orang yang tertekan.
Ketiga, mau bekerja, menyelesaikan semua tugas-tugas sebagai seorang pemimpin, tanggap ketika rakyatnya membutuhkan pertolongan, mau melayani masyarakat bukan hanya dilayani.
Melihat ciri-ciri dari sosok pemimpin yang ideal, jauh dari kenyataan yang ada, oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa banyak masyarakat hilang harapan untuk menemukan pemimpin yang ideal, bahkan di beberapa negeri menjadi apatis dan putus asa. Seorang kolumnis surat kabar di Amerika Serikat menulis saat pemilu, “Tidak ada kandidat yang ideal dan tidak pernah ada. Kita terpaksa menerima.”
Apakah manusia memang tidak memiliki pilihan? Apakah para pemimpin tidak sanggup memuaskan kebutuhan rakyat? Bagaimana dengan pemimpin kita di tanah air ini? Semua jawabannya perlu kita renungkan dengan dalam. Sesuai dengan ucapan Pramudya Ananta Toer: “Satu abad hanya melahirkan satu pemimpin”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s